BRI Bagi Resep Agar Aman Bertransaksi Keuangan Digital

    BRI Bagi Resep Agar Aman Bertransaksi Keuangan Digital

    Dapatkan promo member baru Pengeluaran HK 2020 – 2021.

    BRI terus berupaya menjamin keamanan siber atas sistem serta platform yang dimiliki

    REPUBLIKA. CO. ID, JAKARTA–Keamanan siber telah menjadi hal penting dan semakin dibutuhkan keberadaannya oleh klub saat ini. Peningkatan aksi dan transaksi daring menyusun faktor keamanan menjadi krusial untuk dipenuhi dan dijamin  penyedia jasa serta pelaku bisnis digital.

    Sebagai bank yang memiliki layanan dan produk keuangan digital yang terintegrasi, BRI terus berupaya menjamin ketenteraman siber atas sistem & platform yang dimiliki. Tersedia dua jurus utama BRI dalam meningkatkan keamanan siber yakni melakukan pengamanan berlapis dan aktif melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak.

    BRI rutin melakukan identifikasi kerentanan & testing (penetration test) yang ketat untuk memastikan tak ada lubang di setiap inovasi produk digital. Lalu, pengamanan berlapis dilakukan melalui penjaminan keamanan layanan & operasional, penerapan protection technology, serta pengadaan sistem untuk mendeteksi ancaman siber dengan cepat dan tepat memakai big data dan AI.

    “Jadi kalau ada insiden kudu ada respon cepat buat bisa recover. Ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor bagus dengan fintech, regulator, penegak hukum, telco. Harus ada kolaborasi yang makin baik antara sektor telco serta perbankan, ” ujar Direktur Digital& Teknologi Informasi BRI Indra Utoyo dalam rancangan BRI Cuap-cuap Cuan Hidayah yang diadakan olehBRI serta CNBC Indonesia.

    Menurut Indra, digitalisasi yang berjalan cepat saat ini membawa konsekuensi di peningkatan risiko keamanan siber. Karena itu, pelaku zona perbankan saat ini kudu bisa memiliki manajemen risiko yang lebih baik, segera, dan tepat untuk mengesahkan keamanan setiap produk dengan dimiliki.

    Upaya membangun keamanan siber yang kuat tidak mampu dilakukan oleh masing-masing bank secara terpisah. Kolaborasi antarbank dan juga mengajak para-para pemangku kepentingan, regulator, mengikuti penegak hukum juga harus dilakukan. Melalui kolaborasi yang kuat dan luas, dipastikan ke depannya respon serta langkah preventif tindak pidana siber bisa semakin efektif dilakukan.

    Indra menyebut, saat itu BRI telah menjalin persekutuan dengan Perbanas, ASPI, BSSN, perusahaan telco dan fintech serta regulator dan penegak hukum untuk meningkatkan perlindungan siber. Kolaborasi ini mewujudkan BRI bisa lebih gesit dalam meminimalisir potensi kerugian apabila ada tindakan dengan dicurigai sebagai bentuk kejelekan siber.

    “Kami juga percepat kartu-kartu ini bentuknya segera chip, itu dan kami les bersama-sama dengan pelaku kebaikan keuangan dan regulator kepada nasabah agar lebih waspada, menerapkan pola akses dengan lebih sehat, tidak grup situs yang tidak terang, dan yang terpenting persekutuan dengan [perusahaan] telekomunikasi. Karena memang di setiap layanan digital ini praktis menggunakan mobile dan nanti attach dengan nomor telepon, sehingga penting kolaborasi secara mobile. Jadi kalau tersedia blacklist nomor telepon itu penting untuk dilakukan, kalau ada pergantian nomor (nasabah pengguna mobile banking) selalu kami dinotifikasi sehingga tak terjadi fraud yang berpotensi merugikan nasabah, ” paparnya.

    Indra juga berharap masyarakat (khususnya nasabah BRI) bisa semakin berhati-hati dan membentengi muncul sendiri agar terhindar sebab segala tindakan yang berpotensi merugikan mereka. “Jadi tips-nya itu karena sekarang kita saat ini Wi-Fi telah jadi kebutuhan sehari-hari, jangan gunakan public Wi-Fi yang tidak aman. Kemudian password kalau bisa harus pas kompleks, akun di medsos dan mobile banking kudu dibedakan password dan user ID, kemudian pola tidak mudah ditebak, kalau kanal mengggunakan akses PC sepantasnya gunakan perangkat pribadi, pastikan aktifkan notifikasi sehingga akan terus dapat notif lantaran setiap transaksi, dan berperilaku internet sehat, ” saran Indra.