Pengkaji Ungkap Kelemahan Iran

    Pengkaji Ungkap Kelemahan Iran

    Pengkaji Ungkap Kelemahan Iran

    Kelemahan Iran diungkap peneliti.

    REPUBLIKA. CO. ID, DUBAI–Pusat Kebijakan Emirates menggelar debat tahunan ketujuh yang diisi dengan diskusi panel virtual. Diskusi yang disebut Abraham Accords  ini diikuti oleh spesialis strategis, peneliti, dan pembuat kebijakan dari seluruh dunia.  

    Acara yang bertajuk ‘Timur Tengah antara Rasionalitas Politik dan Delusi’ ini digelar Rabu (11/11), dan ditujukan untuk menyelesaikan pertikaian Arab-Israel dengan pendekatan strategis & realistis, serta menciptakan momentum perbaikan di seluruh Timur Tengah.

    Khalifa Shaheen Al-Marar, asisten menteri urusan politik UEA dalam Kementerian Luar Negeri, mengatakan, Abraham Accords mewakili suatu hal yang masif dan proyek yang sedang berlangsung. “Semakin kami mendapatkan hasil yang nyata dari perjanjian itu, semakin kami memberikan insentif buat menemukan solusi damai untuk permusuhan yang sedang berlangsung, ” ujarnya yang dikutip di Arab News , Jumat (13/11).

    “Untuk membangun kesuksesan dan momentum kesepakatan, kami membutuhkan upaya baru dalam menemukan penyelesaian untuk proses perdamaian Palestina bersandarkan solusi dua negara, ” sambungnya.

    Dua ahli yang mengambil bagian dalam diskusi panel terpisah, berjudul “Decoding the Region in Aftermath of the Treaty”, menyerukan lebih banyak dialog di antara para penandatangan Perjanjian Abraham & negara-negara Timur Tengah lainnya dengan maksud untuk memulai de-eskalasi regional ketegangan.

    “Saya tahu Iran sebagai pecundang dalam definisi kehilangan secara geopolitik, ideologis serta politik di dalam negeri, ” kata Alex Vatanka, rekan senior dan direktur program Iran pada The Middle East Institute.

    “Secara geopolitik, rezim Iran sekarang prihatin dengan apa makna kehadiran Israel di Teluk bagi keamanan Iran. Secara ideologis, sumbu perlawanan berada pada posisi menetap. Jelas bahwa opsi perjuangan bersenjata melawan Israel tidak berhasil & mungkin inilah saatnya untuk membuktikan pendekatan yang berbeda. Di di dalam negeri, ini memalukan bagi Iran di mata orang Iran, ” jelasnya.

    Dia mengatakan Iran sekarang harus menghasilkan solusi kebijakan dan, yang lebih istimewa, terlibat dalam introspeksi. Tanda tanya masih ada, seberapa banyak Israel dan Teluk akan bekerja pas secara militer dan dalam intelijen, yang akan membentuk tindakan Iran ke depan, katanya.

    “Iran telah membuat kesalahan mulia selama 42 tahun terakhir secara percaya bahwa ia dapat berembuk dengan negara-negara Teluk melalui Washington, dan itu adalah premis tiruan yang tidak akan berhasil. Pivot perlawanan ada di pertahanan, yang memberi tekanan pada Iran, ” ujarnya.

    Menurut Vatanka, jika Abraham Accords akhirnya menciptakan cara kerja sama baru dengan nyata yang melibatkan Israel & Teluk, itu akan membuat hidup lebih sulit untuk pesan ideologis yang telah dipromosikan Iran selama 42 tahun terakhir.

    “Ini memalukan bagi Iran serta kegagalan di pihak mereka, ” katanya.

    “Kebijakan sungguh negeri Iran telah mengundang sanksi besar-besaran terhadap negara itu & membahayakan seluruh rezim. Orang-orang Iran akan turun ke jalan serta segala sesuatu yang diperjuangkan sebab Republik Islam sekarang akan ditantang, tidak seperti yang pernah Anda lihat sebelumnya. Itu adalah risiko nyata bagi rezim, ” ujarnya menambahkan.