UII Kembangkan Beragam Bahan Alam Jadi Nanopartikel

    UII Kembangkan Beragam Bahan Alam Jadi Nanopartikel

    UII Kembangkan Beragam Bahan Alam Jadi Nanopartikel

    Bonus harian di Keluaran SGP 2020 – 2021.

    Pengembangan benih alam masih perlu ditingkatkan

    REPUBLIKA. CO. ID, SLEMAN — Nanopartikel berkembang pesat 10 tahun terakhir, termasuk dalam dunia farmasi. Diyakini mampu buahkan kesaktian lebih unggul dibanding produk natural karena dimensi nano membantu kelarutan partikel dalam air yang memacu proses absorbsi.

    Guru Besar Bidang Farmasetika Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Yandi Syukri mengatakan, pengembangan nanopartikel dilakukan pula UII. Tapi, UII langsung berusaha menciptakan produk-produk nanopartikel gres melalui pengembangan bahan-bahan alam.

    “Tujuannya, agar produk-produk tersebut memberikan khasiat yang bertambah unggul, ” kata Yandi di dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Kesehatan Modern serta Tradisional yang digelar UII Nanopharmacy Research Center secara daring.

    Ia menuturkan, melalui UII Nanopharmacy Research Center mereka mampu mengembangkan propolis melalui metode self nanoemulsifying. Mereka mengembangkan propolis dijual di pasaran menggunakan nanoteknologi, sehingga warnanya tidak lagi keruh.

    Produk propolis self nanoemulsifying yang dikembangkan UII dipercaya memiliki peran di dalam imunostimulan. Yandi menekankan, produk propolis tersebut telah diikutkan dalam Bursa Hilirisasi Inovasi Herbal Indonesia dan telah diujikan BPOM.

    Selain itu, mereka telah mengembangkan gold nanopartikel, yang kini sudah berkecukupan membuat krim kosmetik dan serum wajah. Awalnya, dari larutan emas yang bermuatan positif nantinya diubah menjadi nol, sehingga menjadi nanopartikel.   “Caranya dengan ekstrak daun tin yang dijadikan sebagai reduktor, ” ujar Yandi.

    Saat ini, pengembangan buat produk kosmetik masih terus bersambung menggunakan ekstrak lidah buaya. Di dalam UII Nanopharmacy Research Center, Yandi sendiri telah berhasil meraih penghargaan dari FAPA Congress 2016 dengan digelar di Thailand.

    Selain itu, artikel-artikel Yandi terkait tersebut telah tersedia di Jurnal Scopus Q1, Q2 maupun Q3. Yandi menilai, pengembangan bahan alam masih perlu ditingkatkan lantaran Indonesia merupakan negara yang sangat kaya mau keanekaragaman hayati.

    Sumber daya alam yang berlimpah ini, kata Yandi, sebenarnya mampu sediakan bermacam-macam bahan baku untuk pembuatan kosmetik, pangan, pengharum dan bahkan obat-obatan. Tapi, faktanya 90 persen objek baku farmasi di Indonesia merupakan hasil impor.

    “Hal itu menunjukkan ketidakoptimalan dalam pemanfaatan target baku yang tersedia, ” logat Yandi.